Sejarah Berdirinya Paroki Allah Maha Murah
Paroki Allah Maha Murah resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1983. Kehadiran paroki ini memiliki kaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dari sejarah para transmigran asal Pulau Jawa yang menempati wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Purwodadi Jalur 20. Pada masa awal pembukaannya, daerah ini merupakan sebuah unit transmigrasi yang kemudian secara bertahap berkembang menjadi Sidomulyo 20, hingga akhirnya resmi dikenal sebagai Purwodadi Jalur 20.
Di tengah gelombang para transmigran tersebut, terdapat lima keluarga Katolik yang menjadi tiang pancang sekaligus cikal bakal tumbuhnya benih Gereja di tanah pasang surut ini.
- Keluarga Bapak Sudi Mulyono
- Keluarga Bapak Agus Subarjo
- Keluarga Bapak Marno Utomo
- Keluarga Bapak Lukas Suwandi
- Keluarga Bapak Mukijo
Salah satu dari perintis tersebut, yaitu Bapak Lukas Suwandi, membawa sebuah surat titipan berharga dari pastor parokinya di Jawa. Pesan amanat di dalam surat itu adalah agar sesampainya di lokasi transmigrasi, surat tersebut harus segera disampaikan kepada Uskup Palembang. Berkat kesetiaan beliau dalam melaksanakan tugas tersebut, terjalinlah hubungan perdana antara komunitas umat kecil di tanah transmigrasi ini dengan Gereja Keuskupan Palembang.
Merespons kehadiran umat Katolik di wilayah baru ini, pihak Keuskupan segera mengutus seorang imam untuk meninjau dan memberikan pendampingan rohani agar umat tidak merasa sendirian dalam memperjuangkan iman mereka. Pastor Petrus Abdi Putra Raharja SCJ kemudian hadir menjadi gembala pertama yang dengan setia menemani umat Katolik transmigran di Purwodadi. Lewat dedikasi beliau, lahir berbagai karya nyata kemanusiaan dan pendidikan Gereja yang hingga kini menjadi saksi bisu sejarah, di antaranya adalah Pansos Bodronoyo, Panti Asuhan St. Maria, serta Sekolah SMP St. Luis Pasang Surut (yang saat ini telah berganti nama menjadi SMP Xaverius St. Luis Muara Padang).
Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Katolik di Purwodadi terus mengalami pertumbuhan disertai dinamika kehidupan: sebagian ada yang memilih kembali ke Pulau Jawa, ada yang meninggalkan iman Katolik, namun banyak pula yang bertahan dalam kesetiaan, bahkan melahirkan baptisan-baptisan baru. Dari kelima keluarga perintis yang meletakkan dasar pertama tersebut, saat ini masih ada dua orang saksi hidup iman yang dianugerahi umur panjang, yaitu Mbah Sudi dan Mbah Marno.
Perjalanan sejarah ini juga terikat dalam konteks geografis yang lebih luas, di mana kawasan transmigrasi pertama di Sumatera Selatan sebenarnya adalah wilayah Upang–Telang, yang telah dibuka terlebih dahulu pada awal tahun 1970-an (sekitar periode 1970–1974). Sejak masa itu, umat Katolik sudah mulai menetap di sana dan menjadi saksi awal kehadiran Gereja di wilayah pasang surut.
Dalam program transmigrasi ini, para transmigran menerima jatah lahan seluas kurang lebih 2 ½ hektar, dengan rincian ½ hektar untuk rumah beserta pekarangan, dan 2 hektar untuk lahan pertanian. Dari atas tanah penuh tantangan dan perjuangan berat inilah, umat belajar membangun kelayakan hidup sekaligus memperdalam iman, menorehkan babak sejarah indah bagi berdirinya Paroki Allah Maha Murah.
Pembaruan Sistem (Versi 7.1 - Official)
- ⛪ Identitas Paroki Resmi Header kini terintegrasi secara dinamis dengan Logo Paroki Allah Maha Murah dan Logo Keuskupan Agung Palembang.
- 📖 Modul Historical Digital Halaman arsip sejarah ini mengadopsi standarisasi teks resmi babad tanah paroki demi menjaga estafet kisah iman ke generasi berikutnya.
- 📱 Optimalisasi Multi-Perangkat Tampilan tata letak artikel, ukuran huruf teks sejarah, serta responsivitas panel informasi dirancang ramah untuk dibaca melalui Perangkat seluler.